Sunday, January 29, 2012

Sayur asem di hari minggu

Hari minggu ini saya 'diperintahkan' mamah untuk masak sayur asem. Alasannya dia karena pengen makan sayur yang kuah-kuah, dan di rumah sudah ada labu siem yang belum diolah..
Apalagi di rumah ada ayam yang udah diungkep dan tinggal goreng oleh-oleh dari Mba Tri (adik mamah saya, tapi saya kebiasaan manggilnya Mba)

Setelah belanja tambahan kacang panjang, jagung, asam jawa, kemiri, gula jawa, siaplah semua bahan-bahan sayur asem. Mamah nambahin beli terasi dan cabe untuk disambel, plus tahu untuk digoreng..

Daaaaaan voila..
Ternyata saya bisa juga bikin sayur asem.. Ga terlalu sulit seperti yang dibayangkan, hahahaha..

Kemudian mamah goreng, tahu, ayam, dan nyambel terasi.. Saya udah tahu sekarang gimana caranya nyambel terasi.. Besok2 insya allah saya akan nyambel juga deh.. :D

Eniho.. Ini dia foto-foto menu makanan minggu siang ini..
Saya tambahin juga foto ponakan saya Mikaylaa yang ternyata sangat narsis karena ngambek ga mau makan kalo ga difoto.. :))

Saturday, January 28, 2012

Balada Udang Balado



Kemarin Jumat (28/1) saya berhasil masak udang balado.. Maknyus banget deh.. *memuji diri sendiri* Sebenernya sih ga balado2 banget karena rasanya pedas manis.. tapi saya cukup puas dengan mmakanan yummy ini.. :D

Catatan soal udang balado kali ini, si Muai bilang daging udangnya kok lembut banget ga kenyal? saya bilang ke dia karena sebelum di balado saya goreng udangnya 1/2 matang. Soalnya mamah bilang kalo udangnya kematengan gorengnya, bumbunya ga meresap.
Tapi muai ternyata lebih suka kalau daging udangnya agak kenyal2 seperti di restoran2. Jadi, ke depan saya akan ikuti selera suami saya itu deh, hahaha..

Keinginan saya memasak udang balado bermula saat hari kamis tanggal 19 Januari lalu, saat koran tempat saya bekerja, Media Indonesia, berulang tahun ke-42. Hari itu cukup menyenangkan. Sebab baru pertama kali sejak saya bekarja di MI, belum pernah saya turut merayakan acara ulang tahun MI di kantor.

Di hari ulang tahun yang paling menarik hati tentu saja makanannya.. *ketebak banget* :D Waktu itu, karyawan dapat makan siang McD Fried Chicken, lalu ada eskrim walls, nasi tumpeng pertama, nasi tumpeng kedua, buah2an, cake cokelat, dan cheese cake.
Di nasi tumpeng kedua, ada lauk udang balado yang enak banget. Rasa tuh udang jadi istimewa karen lauk lainnya seperti ayam goreng, empal gepuk, dan lain-lainnya terasa sangat biasa. :P

Dengan berbekal keinginan, ternyata bisa juga saya masak udang balado. Si muai belum juga percaya istrinya bisa masak.. Tapi yang jelas, makin ke sini, saya makin semangat dan tertantang membuat menu2 baru.. aih..

seperti biasa, saya lampirkan resep si udang balado itu..:D

Bahan-bahan:
1. Udang 1/2 kilo, cuci bersih, buang kepalanya, lalu digarami.
2. Cabai merah besar 5, direbus. (untuk yang suka pedes bisa ditambah cabai merah keriting, tapi kalo saya kemarin cuma cabai merah besar aja)
3. Bawang merah 4 siung (kupas kulitnya, potong kecil-kecil)
4. Bawang putih 2 siung (kupas kulitnya, potong kecil-kecil)
5. Daun salam, Laos, Sereh (kalau kemarin saya ga pake karena di dapur ga ada persediaan, haha)
6. Petai sebagai tambahan dan penguat rasa (kalau ga doyan ga usah juga gapapa)

Cara membuat:
1. Goreng udang yang sudah digarami hingga dia menjadi oranye. Mamah saya bilang goreng udang 1/2 matang agar bumbunya meresap ketika di balado. Tapi suami saya lebih suka udangnya lebih matang lagi. (jadi soal ini sesuai selera)
2. Blender bumbu cabai merah yang sudah direbus, bawang merah, dan bawang putih sampai halus.
3. Tumis bumbu yang sudah diblender, masukkan daun salam, laos, dan sereh, garam 1/2 sendok makan, gula satu sendok makan. Tambahkan air, aduk-aduk hingga keluar minyaknya.
4. Setelah minyaknya keluar, masukkan udang, aduk-aduk hingga tanak, dan udang balado siap disajikan.


doakan saya segera masuk dapur lagi dan membuat masakan istimewa yah.. :D

Friday, January 27, 2012

Home is where the heart is..

Saat di googling, keluarlah hasil teratas dari "free dictionary" tentang idiom/frase itu. Hasil kedua, judul lagunya Lady Antebellum, dan Elvis Presley. Sedangkan hasil ketiganya adalah sebuah blog berjudul kalimat itu.

yup, tulisan kali ini adalah soal rumah. Atau tepatnya punya/belum punya rumah sendiri. Sampai saat ini saya&muai memang belum punya rumah sih. Kami masih tinggi di joglo, rumah orang tua saya sejak tahunn 1980.
Kami punya alasan kenapa masih tinggal di sana:
1. Ayah saya sudah meninggal, jadi ibu saya hanya tinggal dengan kakak saya&anaknya, plus sama saya&muai.
2. Saya&muai punya tanggung jawab untuk membiayai keperluan rumah tangga di sana. Jika saya pergi, lalu siapa yang akan bertanggung jawab?
3. Saat saya sudah mulai meniti karier menjadi editor, saya merasa beruntung rumah saya lokasinya tidak jauh dari kantor. Jika saya diantar naik motor/ojek, hanya 15 menit dari rumah. Jika naik angkot (saat bukan jam sibuk), selain cuma sekali, waktu tempuhnya hanya kira2 45 menit (itu sudah termasuk jalan +/-1 km).
4. jika pun punya rumah (meski belum tahu kapan), saya ingin punya rumah yang tidak jauh dari mamah. Alasannya, meski jauh dari pusat kota, lokasi rumah saya masih di jakarta, bukan tangerang, tangsel, bekasi, bogor, dsb.

Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, saat ini saya&muai punya keinginan. Kami ingin membangun kamar&ruangan privat untuk kami. Sebuah kamar yang sesuai dengan keinginan kami. Kami ingin mengembangkan rumah mamah menjadi satu hunian yang modern, dan masih akan berumur lebih panjang lagi. Sehingga nanti bisa dihuni oleh keluarga kami, dan juga keluarga kakak saya kelak.

Tapi, persoalan belum memiliki rumah kadang membuat kuping panas kalau konteksnya kaya di percakapan ini.
Mr X: "Lo masih tinggal di MI?
saya: "MI apa?"
Mr X: "Mertua Indah."
Saya: "Gw tinggal di rumah nyokap kali, bukan di rumah mertua.
Mr X: "Ya sama aja lah itu."

atau

Mrs Y: "Lo belum beli rumah?"
Saya: "Belum. Aku sama suamiku mau bangun kamar dulu."
Mrs Y: "Bangun kamar di rumah nyokap lo? Ngapain bangun kamar di rumah orang, mending beli rumah sendiri."

*Crap. I hate u people.*
Sebel deh jadinya. Kenapa sih mereka harus berkata seperti itu?
Seperti menempatkan saya di kelas yang lebih hina karena belum tinggal pisah dari orang tua?
Mereka juga membuat saya berpikir bahwa membangun kamar adalah tindakan yang sia-sia?
Ah kenapa sih? :((


***

Saya sempet curhat sih sama muai. Sempet nanya ke dia apa dia ga pernah kepikiran untuk punya rumah sendiri? Berjuang membayar cicilannya. Membangun keluarga di dalamnya. Ataupun menjadikannya rumah 'muaipani' yang akan kami banggakan setiap waktu.
Jawaban muai sih simple aja. Dengan segala kemauan saya dari nomor 1-4 membuat dia untuk saat ini tidak ngongso membeli rumah&membebani kami berdua dengan cicilan yang mencekik leher. *karena kalau mau nyari rumah yang bisa dicicil lokasinya jauhnya minta ampun dari tempat tinggal kami sekarang*
Muai bilang sama saya, "Yang aku mau sekarang adalah membangun (rumah) sayang. Entah itu rumah di lahan kosong baru, atau rumah yang sudah ada sekarang. Jika pun kita membeli rumah, itu untuk investasi. Jika pun bukan untuk investasi tapi untuk pensiun kita, rasanya aku mau punya rumah di desa."

Pendapatnya muai cukup bijak untuk saya yang labil&sensi gara2 (merasa) dihina sama orang2 karena belum punya rumah.. :(

Trus muai juga menyarankan saya mencari ide proyek pembangunan kamar kami di houzz.com. Sumpah tu website keren banget. Jadi saya pasang juga deh profile ideabook saya di blog ini.. Siapa tahu bisa jadi jadi ide buat orang lain juga.. :D

Sampai di sini dulu posting kali ini.. Yang jelas, saya bersyukur kepada Allah yang telah memberikan saya suami yang terbaik..
I love u Muai.. :D