Kali ini saya menulis blog dalam rangka mendisplinkan diri menulis. *uhuk* Sebab masih ada dua paper yang harus dikerjakan untuk hari senin dan paper-paper lainnya yang entah akan seperti apa. *lah tapi ini malah nulis blog? hehehe*
Kamis pekan lalu saat kelas filsafat ilmu pengetahuan (FIP), dosen yang mengajar ialah Romo Haryatmoko (biasa dipanggil Romo Moko). Dia menerangkan tetang teori dekonstruksi Derrida dan juga pentingnya teks bagi pemikir tersebut karena setiap teks yang dibuat harus bisa dipertanggungjawabkan oleh penulisnya.
Tapi yang menohok saya ketika kuliah itu bukan lah materi kuliah soal Derrida. Namun ucapan Romo Moko yang mengatakan, "Kadang kalau kita mau membuat tulisan atau buku, di kepala kita sudah ada apa yang ingin kita tulis. Namun setelah beneran kita tulis, baru berapa halaman saja kita lihat kok tulisan kita jelek sekali, tidak bagus seperti ketika masih di 'kepala'."
Dari situ Romo Moko melanjutkan kuliahnya dengan bilang, "Makanya nanti kalau membuat tesis, seberapa banyak pun bacaan yang kamu baca, kalau kamu belum mulai menulis sama saja dengan kamu belum membaca." *ouch*
Gila ya si Romo ini, pas banget omongannya pas saya waktu itu belum mengerjakan syntesis essay untuk pemetaan cultural studies (CS) yang Alhamdulillah udah dikumpulin senin kemarin dan UTS FIP yang rencananya saya kumpulkan hari ini.
Berawal dari situ saya mulai punya keyakinan bahwa saya bisa mengerjakan tugas-tugas saya dengan baik. Bukan sok PD, tapi dengan mulai menulis apa yang ada di pikiran kita, ide-ide yang ada di kepala kita (daripada sekadar melayang-layang), tugas-tugas sejauh ini bisa dikerjakan dengan baik (Insya Allah).
Lalu, sesuai dengan judul blog ini, saya ingin bercerita tentang kemarin, Rabu (20/11). Kemarin di kantor ada undangan (wajib) bagi karyawan untuk menghadiri pidato Chairman Media Group Surya Paloh pukul 10.30 WIB. Meski ada label wajib, saya memilih untuk tetap masuk kuliah multikulturalisme bersama Bu Lila. Sebab topik yang akan kami bahas ialah membahas film Good Bye, Lenin!
Entah pilihan saya kuliah tepat atau tidak. Namun yang jelas dari jadwal kuliah jam 09.00 (yang disebut-sebut dimulai pukul 09.30), Bu Lila sendiri datang jam 11. *wakwaw..* Tapi meski begitu, ada lagi hal-hal di luar materi kuliah yang menjadi motivasi saya untuk melanjutkan perkulahan ini dengan baik. Yaitu cerita tentang Seno Gumira Ajidarma.
Dulu ketika masih kuliah S1 dan setelah lulus, buku-buku cerpen Seno selalu menarik perhatian saya. Mungkin buku yang saya baca bukan seri 'yang cukup penting' dari buku-buku yang dikeluarkannya. Sebab saya belum membaca 'kitab omong kosong' (yang direkomendasikan Bu Lila) ataupun Jakarta 2038 yang beberapa kali muncul di materi perkuliahan.
Bu Lila menyebut Seno akan mengajar mahasiswa S2 CS di semester depan di mata kuliah kajian film dan budaya populer. Menurutnya kelas Seno akan menjadi kelas yang menyenangkan. Dua pekan lalu ada kelas kuliah komik Pak Seno, tapi saya tidak hadir karena sakit. *RUGI*
Nah, yang perlu terus diingat oleh saya bukan bagaimana nanti perkuliahannya Pak Seno. Namun soal sosok Seno Gumira Ajidarma yang disebut Bu Lila selalu mendisiplinkan dirinya untuk meluangkan waktu menulis setiap hari. "Pak Seno itu kan sangat sibuk ya. Dia masih mengajar di IKJ, lalu juga kesibukannya di Kompas Gramedia, juga menulis esai-esai lepas untuk majalah-majalah. Tapi dia mendisiplinkan dirinya untuk menulis setiap hari. Padahal kalau seniman biasanya kan semuanya saja," kata Bu Lila.
*Another jleb moment for me*
Tapi dari kelas multi kemarin, setidaknya ada satu hal yang bisa saya ambil sebagai modal saya menjalani kuliah ke depan. Bagaimana kita sendiri mendisiplinkan diri untuk mengerjakan sesuatu. Bukan hanya karena mood, tertekan tenggat, ataupun sekadar mendapat nilai. *Insya Allah bisa dijalanin ya..*
Cerita tentang kemarin tidak selesai sampai di situ. Kemarin saya dari kampus menuju kantor dengan menggunakan commuter line ke Tanah Abang. Dari situ saya lanjut naik mikrolet M11 sampai seberang museum tekstil untuk nyambung naik kopaja P16. Kalau dari sini terlihat perjalanan saya hanyalah rutinitas biasa. Tapi kemarin saya kembali bertemu dengan sopir M11 yang sempet saya sebelin banget karena doi doyan banget ngetem, dan suka neriakin penumpang kalau ongkosnya kurang. Bagi dia ongkos jarak dekat (mau sedekat apapun) tetap Rp3.000, ga kurang.
Karena saya udah gak hobi sama sopir mikrolet itu, akhirnya saya memilih untuk segera turun dan nyambung naik P16 saja. Sebab jalur dia emang nyampe kantor, jadi ga perlu jalan jauh. Namun tumben-tumbenan kemarin saya naik kopaja dari situ sudah penuh empet-empetan. Ya mungkin nasibnya kurang bagus ya terancam berdiri dari Tanah Abang-Kedoya.
Tapi yang membuat saya mau ketawa pas naik kopaja kemarin adalah ada seorang bapak yang membawa delapan ayam kampung dengan posisi kaki-kaki ayamnya diikat terbalik dan dibawa bak bawa kantong kresek. Begitu dia naik. tiga mbak-mbak langsung begidik dan teriak histeris. Kayaknya mereka beneran takut banget sama ayam-ayam itu. Lalu yang terjadi adalah mbak-mbak itu mendusel-dusel ke bagian tengah bus yang udah sempit banget itu untuk menghindari si bapak yang berdiri di belakang.
Ditambah lagi dengan adanya dua orang pengemis/pemalak/pengangguran yang minta uang ke penumpang dengan cara mengancam. "Apa salahnya menyumbang Rp1000-Rp2000 ga akan dibawa mati Pak Bu."
Dari sini saya melihat bahwa angkutan umum ini memang benar-benar milik semua orang. Siapa saja boleh naik (asal bayar), atau kalau ga mau bayar biasanya bermodus menjadi pengamen atau pemalak. Tapi selanjutnya sih perjalanan ga ada masalah, saya dapat duduk di kemanggisan dan sampai di kantor gak kesorean.
Di kantor, tentu topik yang paling mengemuka adalah pidato Surya Paloh di depan karyawan Media Group. Banyak karyawan Media Indonesia yang kecewa karena baik MC maupun Pak Surya hanya menyebut-nyebut Metro TV. Ya mungkin karena Metro TV akan segera berulang tahun 25 November mendatang. Jadi mereka lupa bahwa yang hadir kemarin itu bukan cuma karyawan Metro TV.
Cerita tentang pidato Pak Surya ternyata bukan hanya itu saja. Secara eksplisit doi (katanya) berorasi tentang NasDem. *uhuk* Menjelang 2014 rasanya memang perlu pimpinan partai itu untuk merapatkan barisan. Mengutip dari Mas Donny Redaktur Bahasa, "Pak Surya bilang, sudah tidak memilih NasDem, memilih Partai lain lagi. Seharusnya keluarga mendukung keluarganya." Yap, menurut Mas Donny, Surya Paloh menyebut Media Group sebagai keluarganya, jadi sebagai keluarga seyogyanya mendukung dia di pemilu mendatang, uhuy.
Yaudah deh kalau begitu, jadi ngalor-ngidul ni tulisan. Saya harus berangkat kuliah dulu. Semoga tulisan ini kalau dibaca bisa berguna ya.. Yuk.. Salam restorasi.. *halah*
Showing posts with label politik. Show all posts
Showing posts with label politik. Show all posts
Thursday, November 21, 2013
Thursday, September 20, 2012
vote for jakarta..
hari ini pemilu kada DKI putaran kedua..
saya memilih untuk jakarta..
semoga jakarta menjadi ibukota ya lebih baik
dan menjadi kebanggan warganya.. :)
ps: semua foto diambil muai.. :D
saya memilih untuk jakarta..
semoga jakarta menjadi ibukota ya lebih baik
dan menjadi kebanggan warganya.. :)
ps: semua foto diambil muai.. :D
Labels:
concern,
gubernur,
jakarta,
kehidupan,
megapolitan,
pemilu kada,
politik,
solo
Thursday, July 12, 2012
Kali ini soal pemilu kada DKI*)
Halo.. apa kabar semua?
kali ini saya mau ngomongin soal pemilu kada DKI Jakarta yang udah berlangsung kemarin. *ya udah bisa keliatan dari judulnya kale, pan..*
Ternyata pasangan Jokowi-Ahok unggul sementara ya versi quick count. Ihiy..
*ketauan nyoblosnya siapa, hehe..*
Foke-Nara yang menempati urutan kedua sepertinya ga nyangka mereka di urutan kedua dengan suara hanya 32%-33%.
Apalagi Hidayat-Didik yang ternyata cuma dapet suara 10%-11%.
Kalau Alex-nono kalah sih saya bodo amat. Lagian siapa dia, kok pede bener bakal dapet suara banyak di DKI.. *dudududu..*
Trus kalau calon-calon independen dapet suara kecil, bagi saya bukan kejutan lagi.
Tapi sebelum saya lanjut cerita, bagi yang ga pengen baca silahkan melipir, tapi bagi yang tertarik lanjut baca, yuk mari mampir.. :P
Pemilu kada DKI selalu menjadi obrolan menarik antara saya dan muai. Obrolan kami bermula dari enam pasang kandidat yang diusung oleh 'parta-partai besar' dan juga calon independen beberapa bulan lalu. Saat Golkar memilih Alex Nurdin si Gubernur Sumsel padahal sebelumnya dukung Foke. Lalu PKS yang memilih Hidayat Nur Wahid sebagai cagub dan bukan Triwasaksana aka Bang Sani yang spanduknya udah eksis di mana-mana itu. Ditambah lagi PDIP dan Gerindra menggaet Jokowi yang masih berstatus Walikota Solo. Hal yang membuat Foke si Gubernur incumbent ga bisa jumawa lagi kaya pilkada 2007, saat dia didukung semua parpol kecuali PKS.
Kala itu Muai berkata sama saya, "Nampaknya parpol mulai memanaskan mesin-mesin poltiknya, sayang. Jakarta itu ibaratnya miniatur Indonesia. Kalau di Jakarta sukses, bisa dilihat elektabilitas mereka di 2014 nanti. Bakal rame ni."
Muai bilang Foke yang didukung Demokrat, PAN, PPP, PKB dan beberapa parpol gurem lainnya kemungkinan bakal berat peluangnya untuk menang. Dia kali ini harus berjuang keras untuk menang. Memang sih dia punya keuntungan dengan menjadi incumbent, tapi tetep aja dengan pamor Demokat yang menurun, elektabilitas dia menurun.
Muai juga cerita soal Jokowi yang akhirnya maju DKI 1 karena didukung oleh Prabowo (Gerindra). Awalnya PDIP bilang akan dukung Foke, tapi kemudian Megawati memberi restu Jokowi maju jadi Cagub DKI.
"Itu karena didorong prabowo, makanya akhirnya megawati setuju agar jokowi maju. Prabowo kan punya uang dan masih punya 'kuasa," kata Muai.
Saya yang saat itu nge-fans sama Jokowi sebagai walikota solo sempet jadi ga simpatik loh. Saya saat itu melihat jokowi kok seperti 'aji mumpung' dan ingin mencari kekuasaan sekali yah. Apalagi dengan icon naik metro mini ketika mendaftar ke KPU, pakai kemeja kotak-kotak, lalu mobil iklan jokowi-basuki di mana-mana.
Di sisi lain ada dua calon independen yaitu Faisal Basri, dan Hendarji Supanji. Dua calon ini akhirnya bisa mendaftar jadi cagub setelah mengumpulkan 400-an KTP (kalau ga salah) sebagai basis dukungan. Awalnya kalau ga salah si Faisal Basri sempat terganjal kasus KTP ganda, tapi kemudian dia bisa lolos verifikasi.
Seingat saya Muai ga terlalu banyak ngomentarin soal cagub dari independen ini. Yang ramai justru dukungan dari kawan-kawan saya media sosial. Ada yang ikutan ngumpulin KTP, turut bantu edukasi ide perubahan yang diusung calon independen, dan juga refleksi ada gerakan masyarakat yang sudah muak sama sistem parpol di Indonesia.
Kalau soal pasangan independen ini saya punya pendapat sendiri. Di luar saya ga terlalu suka sama Faisal Basri karena dia sebagai pengamat ekonomi udah ga pernah bisa ditelepon lagi. *alasannya pribadi banget gitu, haha..* Sementara kalau calon independen lainnya, Hendarji Supanji, saya kok ngeliatnya dia seperti 'job seeker' ya?
Selain itu bagi saya calon independen untuk gubernur DKI rasanya belum pas. Kenapa?
Karena untuk membuat keputusan seorang gubernur harus memiliki dukungan di DPRD yang notabene perwakilan dari parpol-parpol. Seingat saya, APBD DKI itu hampir selalu terlambat disahkan karena DPRD-nya lama memutuskannya. Bukan hanya itu, Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI 2010-2030 itu akhirnya baru bisa disahkan pertengahan tahun 2011. Jika tidak didukung oleh DPRD, bagaimana sebuah program bisa berjalan?
Jadi bagi saya, memilih calon dari parpol tetaplah yang terbaik saat ini. Seorang pemimpin yang hebat itu seharusnya bisa memperbaiki sistem dari dalam, bukan membuat sistem baru lagi.
Sebab saya teringat ucapan muai beberapa waktu lalu soal pendirian parpol baru jelang pemilu (termasuk salah satunya partai nasdem, ehem..) "Pendirian parpol baru oleh orang-orang wajah lama itu bukanlah bentuk dari 'demokrasi', tapi hanya 'patologi politik'," kata Muai. *duile banget deh tu quote.*
Tapi akhirnya saya menyadari bahwa quote itu bener, dan itulah yang membuat saya ga begitu respek dengan calon independen di pemilu kada DKI kali ini. *buat timfaisalbiem no offense*
***
Masalah klasik kedua dari pemilu/pemilu kada yang selalu terjadi tapi ga pernah bisa tuntas diselesaikan adalah soal manipulasi daftar pemilih tetap (DPT). Waktu pemilu/pilpres 2009 kemarin coba siapa aja yang menemukan indikasi kecurangan hingga pasangan SBY-Boediono unggul di atas 50% dalam 1x putaran?
Jujur aja saya kala itu termasuk orang yang curigesyen. Soalnya 'rasanya' cukup banyak yang nyoblos JK, tapi kok suaranya kecil banget ya? *saya agak lupa berapa persen suaranya JK* Tapi waktu itu soal DPT bermasalah kan ga pernah selesai diusut, jadi ya gitu deh... kecurangan sangat mungkin terjadi di pemilu kada DKI.
***
Kemarin hari pencoblosan berlangsung.. Memang ada keriuhan macam warga kelurahan ini ga terdaftar, pasien rumah sakit anu jadi bisa nyoblos karena salah bawa formulir, ataupun ada anak 15 tahun bisa nyoblos.. hohoho..
Tapi ternyata saya cukup terkejut dengan hasil quick count yang menempatkan pasangan jokowi-ahok mendapatkan 42%-43% suara.. waaaw.. Soalnya saya mengira jokowi suaranya kemungkinan nomor 2 lah, masih di bawah foke. Tapi ternyata justru foke yang di nomor 2.
"Tenyata di Jakarta itu banyak orang Jawa, sayang," kata muai waktu kami membahas keunggulan Jokowi.
Saya dan muai kemarin antusias banget ngebahas hasil quick count kemarin. Menurut muai ini adalah salah satu gebrakan PDIP-Gerindra jelang 2014.
"Menurutku PDIP beruntung. Di saat mereka paceklik kepemimpinan, tiba-ada tokoh yang disukai dan mempunyai track record bagus di mata masyarakat," kata muai.
"Jokowi itu memang bagus, sayang. Soalnya di solo itu tidak ada penolakan. Mulai dari kalangan ektrimis, nasionalis, alim, pengusaha china, dan lain-lain, semua ga menolak jokowi.," tambah dia.
Hmm.. mungkin itu juga yang terjadi di Jakarta..
Warga butuh perubahan, dan perubahan itu bukan hanya 'lip service' semata..
***
Akhir kata.. hasil pemilu kada yang resmi dari KPUD belum ada sih.. Tapi dengan hasil quick count kemarin cukup menggambarkan kalau akan ada pemilu kada putaran kedua Jokowi-Ahok vs Foke-Nara.
Siapa gubernur yang ingin anda pilih? Jangan lupa gunakan hati nurani anda, uhuy.. :P
*)disclaimer: tulisan ini merupakan opini pribadi
**)foto-foto dari http://kpujakarta.go.id/
kali ini saya mau ngomongin soal pemilu kada DKI Jakarta yang udah berlangsung kemarin. *ya udah bisa keliatan dari judulnya kale, pan..*
Ternyata pasangan Jokowi-Ahok unggul sementara ya versi quick count. Ihiy..
*ketauan nyoblosnya siapa, hehe..*
Foke-Nara yang menempati urutan kedua sepertinya ga nyangka mereka di urutan kedua dengan suara hanya 32%-33%.
Apalagi Hidayat-Didik yang ternyata cuma dapet suara 10%-11%.
Kalau Alex-nono kalah sih saya bodo amat. Lagian siapa dia, kok pede bener bakal dapet suara banyak di DKI.. *dudududu..*
Trus kalau calon-calon independen dapet suara kecil, bagi saya bukan kejutan lagi.
Tapi sebelum saya lanjut cerita, bagi yang ga pengen baca silahkan melipir, tapi bagi yang tertarik lanjut baca, yuk mari mampir.. :P
Pemilu kada DKI selalu menjadi obrolan menarik antara saya dan muai. Obrolan kami bermula dari enam pasang kandidat yang diusung oleh 'parta-partai besar' dan juga calon independen beberapa bulan lalu. Saat Golkar memilih Alex Nurdin si Gubernur Sumsel padahal sebelumnya dukung Foke. Lalu PKS yang memilih Hidayat Nur Wahid sebagai cagub dan bukan Triwasaksana aka Bang Sani yang spanduknya udah eksis di mana-mana itu. Ditambah lagi PDIP dan Gerindra menggaet Jokowi yang masih berstatus Walikota Solo. Hal yang membuat Foke si Gubernur incumbent ga bisa jumawa lagi kaya pilkada 2007, saat dia didukung semua parpol kecuali PKS.
Kala itu Muai berkata sama saya, "Nampaknya parpol mulai memanaskan mesin-mesin poltiknya, sayang. Jakarta itu ibaratnya miniatur Indonesia. Kalau di Jakarta sukses, bisa dilihat elektabilitas mereka di 2014 nanti. Bakal rame ni."
Muai bilang Foke yang didukung Demokrat, PAN, PPP, PKB dan beberapa parpol gurem lainnya kemungkinan bakal berat peluangnya untuk menang. Dia kali ini harus berjuang keras untuk menang. Memang sih dia punya keuntungan dengan menjadi incumbent, tapi tetep aja dengan pamor Demokat yang menurun, elektabilitas dia menurun.
Muai juga cerita soal Jokowi yang akhirnya maju DKI 1 karena didukung oleh Prabowo (Gerindra). Awalnya PDIP bilang akan dukung Foke, tapi kemudian Megawati memberi restu Jokowi maju jadi Cagub DKI.
"Itu karena didorong prabowo, makanya akhirnya megawati setuju agar jokowi maju. Prabowo kan punya uang dan masih punya 'kuasa," kata Muai.
Saya yang saat itu nge-fans sama Jokowi sebagai walikota solo sempet jadi ga simpatik loh. Saya saat itu melihat jokowi kok seperti 'aji mumpung' dan ingin mencari kekuasaan sekali yah. Apalagi dengan icon naik metro mini ketika mendaftar ke KPU, pakai kemeja kotak-kotak, lalu mobil iklan jokowi-basuki di mana-mana.
Di sisi lain ada dua calon independen yaitu Faisal Basri, dan Hendarji Supanji. Dua calon ini akhirnya bisa mendaftar jadi cagub setelah mengumpulkan 400-an KTP (kalau ga salah) sebagai basis dukungan. Awalnya kalau ga salah si Faisal Basri sempat terganjal kasus KTP ganda, tapi kemudian dia bisa lolos verifikasi.
Seingat saya Muai ga terlalu banyak ngomentarin soal cagub dari independen ini. Yang ramai justru dukungan dari kawan-kawan saya media sosial. Ada yang ikutan ngumpulin KTP, turut bantu edukasi ide perubahan yang diusung calon independen, dan juga refleksi ada gerakan masyarakat yang sudah muak sama sistem parpol di Indonesia.
Kalau soal pasangan independen ini saya punya pendapat sendiri. Di luar saya ga terlalu suka sama Faisal Basri karena dia sebagai pengamat ekonomi udah ga pernah bisa ditelepon lagi. *alasannya pribadi banget gitu, haha..* Sementara kalau calon independen lainnya, Hendarji Supanji, saya kok ngeliatnya dia seperti 'job seeker' ya?
Selain itu bagi saya calon independen untuk gubernur DKI rasanya belum pas. Kenapa?
Karena untuk membuat keputusan seorang gubernur harus memiliki dukungan di DPRD yang notabene perwakilan dari parpol-parpol. Seingat saya, APBD DKI itu hampir selalu terlambat disahkan karena DPRD-nya lama memutuskannya. Bukan hanya itu, Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI 2010-2030 itu akhirnya baru bisa disahkan pertengahan tahun 2011. Jika tidak didukung oleh DPRD, bagaimana sebuah program bisa berjalan?
Jadi bagi saya, memilih calon dari parpol tetaplah yang terbaik saat ini. Seorang pemimpin yang hebat itu seharusnya bisa memperbaiki sistem dari dalam, bukan membuat sistem baru lagi.
Sebab saya teringat ucapan muai beberapa waktu lalu soal pendirian parpol baru jelang pemilu (termasuk salah satunya partai nasdem, ehem..) "Pendirian parpol baru oleh orang-orang wajah lama itu bukanlah bentuk dari 'demokrasi', tapi hanya 'patologi politik'," kata Muai. *duile banget deh tu quote.*
Tapi akhirnya saya menyadari bahwa quote itu bener, dan itulah yang membuat saya ga begitu respek dengan calon independen di pemilu kada DKI kali ini. *buat timfaisalbiem no offense*
***
Masalah klasik kedua dari pemilu/pemilu kada yang selalu terjadi tapi ga pernah bisa tuntas diselesaikan adalah soal manipulasi daftar pemilih tetap (DPT). Waktu pemilu/pilpres 2009 kemarin coba siapa aja yang menemukan indikasi kecurangan hingga pasangan SBY-Boediono unggul di atas 50% dalam 1x putaran?
Jujur aja saya kala itu termasuk orang yang curigesyen. Soalnya 'rasanya' cukup banyak yang nyoblos JK, tapi kok suaranya kecil banget ya? *saya agak lupa berapa persen suaranya JK* Tapi waktu itu soal DPT bermasalah kan ga pernah selesai diusut, jadi ya gitu deh... kecurangan sangat mungkin terjadi di pemilu kada DKI.
***
Kemarin hari pencoblosan berlangsung.. Memang ada keriuhan macam warga kelurahan ini ga terdaftar, pasien rumah sakit anu jadi bisa nyoblos karena salah bawa formulir, ataupun ada anak 15 tahun bisa nyoblos.. hohoho..
Tapi ternyata saya cukup terkejut dengan hasil quick count yang menempatkan pasangan jokowi-ahok mendapatkan 42%-43% suara.. waaaw.. Soalnya saya mengira jokowi suaranya kemungkinan nomor 2 lah, masih di bawah foke. Tapi ternyata justru foke yang di nomor 2.
"Tenyata di Jakarta itu banyak orang Jawa, sayang," kata muai waktu kami membahas keunggulan Jokowi.
Saya dan muai kemarin antusias banget ngebahas hasil quick count kemarin. Menurut muai ini adalah salah satu gebrakan PDIP-Gerindra jelang 2014.
"Menurutku PDIP beruntung. Di saat mereka paceklik kepemimpinan, tiba-ada tokoh yang disukai dan mempunyai track record bagus di mata masyarakat," kata muai.
"Jokowi itu memang bagus, sayang. Soalnya di solo itu tidak ada penolakan. Mulai dari kalangan ektrimis, nasionalis, alim, pengusaha china, dan lain-lain, semua ga menolak jokowi.," tambah dia.
Hmm.. mungkin itu juga yang terjadi di Jakarta..
Warga butuh perubahan, dan perubahan itu bukan hanya 'lip service' semata..
***
Akhir kata.. hasil pemilu kada yang resmi dari KPUD belum ada sih.. Tapi dengan hasil quick count kemarin cukup menggambarkan kalau akan ada pemilu kada putaran kedua Jokowi-Ahok vs Foke-Nara.
Siapa gubernur yang ingin anda pilih? Jangan lupa gunakan hati nurani anda, uhuy.. :P
*)disclaimer: tulisan ini merupakan opini pribadi
**)foto-foto dari http://kpujakarta.go.id/
Subscribe to:
Posts (Atom)








